Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan

12 Mei 2015

Masa lalu dan Perjalanan ke Mesir bag 2


Sekaranglah saatnya...lansung praktek aja pasti seru..minimal pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil... mungkin

Dan sayapun mulai melirik sekeliling, mencari siapa kira2 yg seharus nya saya sukai, (aneh y..saya baru sadar sekarang klo perasaan itu tdk bisa dihitung dg kalkulator, dia bukan ilmu pasti, suka adalah ilmu aneh yg ga punya kurikulum, dia hy bisa dipahami oleh orang2 yg sdg tenggelam didalamnya).

Tapi  yg jelas beberapa minggu kemudian saya membuat keputusan dan mengiriminya surat kaleng…, apakah saya diterima? tentu saja tidak, saya langsung ditolak bahkan sempat menjadi bahan gunjingan dalam kelas. (kenapa saya gagal dan apakah saya berhasil menemukan jawaban thd pertanyaan2 saya…kapan2 aja saya tulis)

Singkat cerita dua kegagalan eksperimen ini membuat saya mulai ragu dg buku2 psikologi, motivasi, manajemen dan buku2 lain yg saya baca, apakah semua yg mereka tulis itu benar atau hanya sekian persen saja yang bisa dipegang ataukah saya gagal karena perbedaan keadaan sosio kultural tempat saya hidup dg tempat penulis mengambil sampel2 percobaannya, mereka hidup di Barat sedangkan saya tinggal di Timur (Asia), ya bedalah adat dan kebiasaan kami. Teori2 mereka tumpul, tak bisa diterapkan di daerah saya..ya itulah kesimpulan sementara saya.
Saya berani masuk MLM dan juga menembak si dia adlah karena aliran semangat dan gairah yg muncul dari ide2 mereka, sipenulis kelas dunia itu. Saya gagal, saya rasa  harapan yg diberikan sipenulis2 itu seperti uap, tidak bisa sepenuhnya diterima mentah2. buktinya saya gagal.

Namun saya tidak sepenuhnya menyerah karena saya masih mempunyai target selanjutnya yang perlu saya coba, tidak ada salahnya mencoba kan? Tidak ada manfaatnya menangisi susu yg tumpah ke lantai, bersihkan saja dan lakukan tugas2 lain yg sudah menunggu.

Target saya selanjutnya adalah bisa kuliyah keluar negri, aneh...waktu itu saya seperti sahabat yg membakar hapis kapalnya, di depan adalah musuh dan di belakang adalah laut lepas, kalau maju ada 2 kemungkinan bisa menang dan memperoleh apa yg kita inginkan atau kalah namun dikenang sebagai pahlawan, kalau mundur maka mati konyol karena kapal sudah dibakar.

waktu itu saya hy punya satu pikiran saya harus ke luar negri, saya tidak akan kuliyah dimana2 selain di luar negri...harus. kalau tahun ini tidak bisa maka tahun depan harus bisa kalau ga tahun depannya lagi.

setelah berharap setengah mati akhirnya pun saya lulus, saya selamat gara2 8 point, waktu itu syarat kelulusan non depag adalah 60 dan untuk jalur depag (beasiswa) harus memiliki rata2 80.

nilai rata2 saya waktu itu adalah 60.8 . yach saya rasa saya lulus gara2 doa dari orang2 tercinta padahal kemampuan tidak terlalu baik. tapi yang jelas saya lulus sedangkan ilmu bisa di usahakan, yang penting lulus dulu.

Saya tidak punya kelebihan materi, anda tahu lah apa yang saya lakukan sehari2. Saya tidak mungkin dalam tiga bulan bisa mengumpulkan uang puluhan juta untuk biaya kuliyah di luar negri. Namun demikian saya mencoba untuk tetap percaya bahwa itu pasti bisa “pasti ada cara.” Ya klo nantinya gagal lagi ya minimal saya tidak menyesal tidak ke luar negri, saya sudah mencoba dan saya gagal. Itulah takdir saya. selesai masalah, titik.

Ya lebih kurang seperti itulah pesan2 yg sering disampaikan bapak2 motivasi dalam kuliah2 mereka.

Perjuangan keluar negri lebih terkendala kepada mencari dana dan “catatan lusuh” saya telah  mengabadikan kisah pengemis saya dlm cari dana. Semua ada saya simpan dengan rapi, mulai dari angka-angka yang masuk dan keluar, tanggal, org yg pertama kali mengasih semangat, org yg pertama kali mengasih dana, saya dapat 300.000 rupiah, ini utk modal awal katanya. Semoga berhasil.

Saya juga mencatat pesan-pesan mereka, harapan2 mereka.
Waktu itu saya meng-kopi sekitar 50 proposal dana, sebagian saya sebar di mesjid2 pas waktu jum’atan, sebagian di sidang hari raya, kedai2 anderdil motor, kedai pupuk, kantor badan amil zakat (BAZ) , bank bpr, kantor wali nagari, kantor camat, kantor bupati, kantor diknas, tempat praktek dokter kandungan, mendatangi orang2 kaya dengan wajah memelas tapi hati memaksa seolah mengatakan “bahwa kami adalah fi sabilillah", padahal kenal juga ga’ dg mereka.


Sungguh aneh karena waktu itu tak ada rasa segan sikitpun untuk minta2 sumbangan. Kadang disuruh menjalankan katidiang (keranjang sumbangan), kadang sebelum dikasih sumbangan diminta untuk menjadi khatib jum’at dulu di sana, kadang juga ditolak dengan berbagai alasan logis dan tak logis, yang saya rasakan waktu itu hanya manis manis asam kayak lagi makan jeruk sambil kening berkerut. Eisspp..ha gimana gitu.

bersambung...

23 April 2015

Sekelumit Masa Lalu dan Perjalanan ke Mesir



Catatan masa silam dulu, tentang sebuah semangat mengotak-atik potongan2 asa, setiap hari hanya satu harapan: semoga setiap potongan2 kecil itu bisa jatuh ditempat yang pas agar di hari H nanti menjelma menjadi sebuah gambar besar yang selaras, minimal bisa dibaca. Memori ini muncul tanpa diundang, saat itu saya beres2 mau pindah kos, saya ketemu buku catatan usang saya, seketika saya masuk ditarik ke masa silam.

Perjuangan 6 tahun yang lalu, juni 2008. Ini adalah awal dari gelembung2 semangat yang bikin saya linglung panas dingin, rasanya saya ingin berteriak “pak..buk.. saya lulus tes kuliyah ke luar negri?! Aha jenius ?!”. Dengan sengatan berita kelulusan itu rasanya saya mulai hidup dalam khayal yg melalang buana, selama berhari-hari bernafas tanpa tahu harus melakukan apa. 

Yach… ini merupakan sebagian dari kelemahan saya, ketika menginginkan sesuatu maka semua pikiran saya, hati saya, alam sadar dan tidak sadar saya langsung tercurahkan pada satu hal itu saja, saya tidak akan bisa memikirkan hal lain, youhh kebebasan saya rasanya betul2 terampas. 

Kadang saya merasa sudah tidak lagi di dunia ini karena separuh jiwa ini sudah bertengger, berjalan melenggang dengan indahnya di alam khayal. 

Dimanapun saya berada, khayalan ttg kuliyah di luar negri selalu hadir, menggoncang2 jiwa, baik itu ketika membantu ibuk di dapur, ketika menjemput air untuk kebutuhan dapur dari lubuk (mata air) yang cukup jauh, belanja ke warung yg juga lumayan jauh, ketika makan, ketika bantu2 orang tua di sawah, ketika sendirian di kamar bahkan kadang2 ketika lagi sholat. Hgzztt.

Setahun sebelumnya (yaitu tahun 2007) ketika saya mulai masuk tahun akhir di sekolah saya, saya mulai merasa kosong: kosong waktu, kosong permasalahan.

Saya merasa memiliki banyak sekali waktu kosong, tinggal di mesjid yg dekat dari gedung sekolah, dapat tunjangan yg mencukupi kebutuhan sebulan. 

Dengan dua modal ini waktu kosong saya menjadi bertambah, pertama karena saya tidak butuh menghabiskan waktu lama untuk bisa sampai ke sekolah, kedua saya merasa tidak usah menghabiskan waktu membantu orang tua di sawah karena saya sudah punya uang sendiri yang mencukupi kebutuhan saya. 

Banyak waktu luang dan sekolah juga tidak memberi tugas yg menyita waktu membuat ruang hampa semakin menganga. Ya spt itulah kekosongan pertama, kayaknya sudah ada gambaran umumnya. Sekarang lanjut tentang permasalahan selanjutnya!

Kekosangan permasalah. Semenjak dulu sirkulasi rutinitas saya adalah sirkulasi aman, siklus minim masalah. 

Pertama keluarga. Keluarga rasanya cukup harmonis, saya tidak pernah melihat orang tua bertengkar, ibuk bapak taat beragama, rajin sholat, puasa, baca quran, nyaman kali rasanya kalau dirumah, saya tidak ingin kemana2.

Kedua rutinitas saya. biasanya pagi siang saya disekolah, sorenya membantu orang tua, malam belajar kemudian tidur dan paginya sekolah lagi. 

Hari minggu saya membantu ibuk belanja ke pasar (bl panjang) atau menjaga padi yang dijemur di halaman supaya tidak dimakan oleh ayam2 tetangga dan kadang membantu orang tua di sawah atau hanya sekedar menjaga padi yg mulai menguning di sawah supaya tidak dimakan oleh burung gereja atau pipit.

Rutinitas seperti ini saya sebut sbg siklus anti masalah atau rutinitas aman karena dia saya membuat saya terpelihara dari permasalahn kenakalan remaja, huru hara yg gak jelas. 

Saya tidak perlu merasa stress karena tidak ada yg perlu dikhawatirkan, di sini kita lebih membutuhkan otot ketimbang otak hanya butuh badan yg sehat dan stamina yg ok saja, apa yg dikerjakan orang tua tinggal ditiru saja, gampang lah pokoknya.

Banyak kesibukan dirumah atau sawah membuat saya tidak punya waktu main2 dg anak2 baru puber yang tinggalnya lebih dekat dengan jalan besar beraspal, main bola kaki, main kartu, domino atau sekedar duduk2 di warung sambil mendengarkan cerita huru hara mereka, cerita ttg hantu, ttg pacaran, saya akui mereka jago bercerita dan selalu punya kisah menarik untuk diumbar namun keluarga saya melarang duduk2 di warung, ah janganlah ikut2 pula dg preman.

Wow anda shaleh sekali, berpikiran bijak semenjak kecil bla bla bla…, 

Jangan mengambil kesimpulan terlalu dini sodara! Walaupun saya bebas masalah atau kosong masalah namun waktu itu saya merasa terkucil dari lingkaran kehidupan yg seharusnya. Semakin saya beranjak remaja semakin banyak gejolak perasaan yang saya timbun dalam dada, semakin sering pula saya melakukan monolog, bertanya2 ttg semua detail yg terjadi dalam kehidupan saya, saya mulai bertanya dg pertanyaan “mengapa saya…” kemudian menjawab dengan kata “karena…” namun secara umum saya hanya bisa melontarkan pertanyaan “mengapa saya…” tanpa bisa berkata “karena…” yaa otak tidak terlalu cerdas utk menjawab semua pertanyaan2 itu. 

Sungguh pada waktu itu saya sangat butuh kehadiran pembimbing yg bisa memuaskan semua pertanyaan2 saya atau seorang teman super jenius yang tidak pernah bilang “kamu ini aneh” terhadap semua kebingungan saya.

Harapan tinggal harapan dan saya tetap harus menjawab semua pertanyaan seorang diri saja, kadang saya bertanya mengapa nama saya dalam akte novi dan kenapa dirumah dipanggil andi, mengapa kalau saya ikut bicara ketika orang lain bicara mereka bilang “husss anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa” saya heran mengapa saya dilarang bicara tanpa dijelaskan dimana letak kesalahan ucapan saya, padahal saya yakin apa yg saya ucapkan sangat benar sekali dan masuk akal, saya dilarang berpendapat semata2 karena saya masih kecil.

Sungguh dunia ini tidak adiiiil, saya ingin sekali berlari ke masa depan supaya cepat dewasa dan bisa didengarkan ucapannya. (inilah salah satu tragedy menjadi anak paling bungsu, tidak ada yg menghormati perkataannya, selalu dianggap ingusan. Hufhf sebal :( )

Saya heran mengapa ada orang miskin dan ada orang kaya, mengapa sebagian orang suka berbohong bahkan disaat2 yg sebenarnya mereka bisa jujur, saya juga sering bertanya” apasih kriteria seseorang bisa disebut manis atau ganteng bukankah semua orang itu sama saja selama mereka anggota tubuh mereka lengkap dan tidak cacat, bahkan saya tidak bisa menyebutkan dimana letak manis dan gantengnya para artis, saya lihat mereka sama saja dg orang-orang yang saya temui sehari.

Di lain waktu kadang saya juga terpikir bagaimana manusia bisa terlahir ke dunia dan pernah debat dg kawan saya ttg masalah ini sewaktu kelas 5 SD, setelah saya masuk Tsanawiyah dan belajar biologi baru saya sadar klo pendapat teman saya itu benar dan pendapat saya salah. (terima kasih guru biologi tercinta alm bu Sumiarti yg telah memberi saya byk pengetahuan baru, semoga Allah melapangkan kuburanmu. Amin) dan banyak lagi pertanyaan yg menyesak.

Tidak ada jawaban untuk kebanyakan dari pertanyaan saya dan tidak ada yang mau menghabiskan waktunya dengan sia2 untuk menjelaskannya. Semua sibuk bekerja banting tulang dan pertanyaan saja dianggap tidak berbobot. 

Satu-satunya yg membuat saya tidak berontak dg penerimaan yg seperti itu adalah karena saya bisa masuk dg bebas ke dalam alam khayal, alam super luas tanpa batas. Saya sering melarikan pertanyaan2 kealam khayal…menghayal dalam sepi. Saya menemui keindahan dalam kesunyian.

Dengan berbasiskan dua keadaan di atas maka saya bisa hidup dengan aman tentram dan tetap sunyi. Hukum kausalitas memang benar “ kesunyian hanya membawa kepada kesunyian dan kekosongan pasti bermuara juga kepada kekosongan. Ketika awal menginjak kelas 6 diniyah (2007) saya merasa seperti nol besar, kosong hampa. Saya harus melakukan sesuatu…jreng jreng jreng otak saya mulai berputar.

Saya mulai sering datang ke pustaka bg hatta, meminjam buku secara berkala. Yo i mengapa saya tidak bertanya kepada orang2 besar kaliber internasional, otak saya terlalu kecil untuk bisa diandalkan. 

Saya mulai menggaris target untuk saya simpan dibalik setiap buku yg saya pinjam. Tahun ini saya ingin melakukan sesuatu yg berbeda.  

Walhasil setelah beberapa bulan langganan dengan pustaka saya menggebu ingin mencoba untuk membuktikan kebenaran ide-ide yg ditulis oleh para penulis  dunia, saya memutuskan untuk membuktikan ilmu2 itu dg bergabung dg MLM (multilevel marketing) itu perubahan yang pertama, untuk sukses kita harus keluar dari zona nyaman, membuat tantangan2 yg sulit, berani ditolak, berani gagal, pokoknya banyak sekali sisi2 positif yg bisa ditemukan dalam MLM.

Di lain waktu mulai ada keinginan untuk tahu ttg bagaimana rasanya jatuh cinta, buku2 yang saya baca mengatakan bahwa ketertarikan kepada lawan jenis adalah satu diantara tanda2 mulai remaja, dan cinta itu seperti magnet, dia akan saling tarik menarik klo seandainya bertemu dg frekuensi yg pas, ayo ungkapkan perasaanmu, orang yg kamu sukai sebenarnya sedang nunggu kamu yang aktif duluan, yang ngungkapin perasaan, perempuan sifatnya pasif, dia lebih suka menunggu, kemudian penulis menuliskan testimoni kisah-kisah yg menguatkan statementnya itu, Waktu itu saya sangat percaya sekali, sanggggggat percaya dg buku motivasi yg saya baca, dan cap “best seller” adalah jaminan mutu menurut saya. Yes! Saya dapat ilmu baru lagi.

Jatuh cinta adalah hal terbesar dari tanda2 remaja yg  menurut saya sangat penting. Karena semenjak SD sampai akhirnya saya kenal dengan pustaka saya memang asik memikirkan asal muasal jatuh cinta, belum terpikir ttg cinta itu sendiri sih karena waktu itu umur saya masih kecil. Hy mukaddimah saja.

Pertanyaan yang sdh ada smnjak SD sampai saya mulai rajin ke pustaka  “apa kriteria cantik atau ganteng ataukah semua itu relative saja tidak ada orang yg benar2 cantik atau ganteng” kalau seandainya bisa dinilai maka saya berada dalam posisi apa, ganteng atau sedang atau kurang dan bagaimana dengan teman2 dilokal apakah mereka bisa juga dikelompok2an kepada cantik, biasa dan kurang. 

eksperimen dimulai lagi dan saya mulai melirik sekeliling siapa yg seharus nya saya sukai dan apa alasan...bersambung.

7 November 2014

Kejadian-kejadian di sini, Ketika Ayah Meninggal di sana


Waktu itu hari selasa, saya sedang ujian term 2, tahun 3 di kuliyah zagaziq, universitas al-Azhar. Masih ada beberapa mata pelajaran lagi yang akan diujikan, pada hari kamisnya 15 juni , ada ujian takhrij atau hadis tahlili (hemmm.. saya lupa), yang jelas pelajaran itu dibawakan oleh duktur mamduh, dosen favorit saya. Hari minggunya juga masih ada ujian, Gimana ya?? Harus kah saya merasibkan diri karena musibah yang datang ini?

Yang pertama kali datang ke rumah saya untuk menghibur (ta’ziyah) adalah mas uus dan ceng gilman. Mereka bawa buah-buahan ke rumah dan mengajak saya gobrol berusaha meringankan beban perasaan saya, terima kasih buat mereka, padahal saya tahu mereka sendiri sedang memikul beban, harus ngafal dan mempersiapkan diri untuk ujian pada hari kamisnya, sama dengan saya.

Kedatangan mereka sangat menghibur saya, saat itu saya mengambil kesimpulan bahwa ternyata yang paling berkesan itu adalah simpati, empati, ikhlas dan terdepan.

Maksudnya gini, yang sangat berkesan bagi saya dari mereka berdua adalah mereka orang yang pertama kali datang menampakkan diri ke rumah ketika saya ditimpa musibah, saya paling terkesan dari sisi ini, bukan karena apa yang mereka bawa atau apa yang mereka ucapkan.

Tapi saya senang juga sih dengan buah-buahan dan wejangannya. Semangkanya manis pak kiayi.. Jazahumullahu khairal jaza-.

Malammya ada salat gaib di DPD Zagazig dan ada salat gaib juga bersama kawan-kawan alumni Diniyah di Kairo.

Salat gaib di DPD (Dewan Perwakilan Daerah-sekretariat mahasiswa) Zagazig berjalan lancar, yang menjadi imamnya saya sendiri, kemudian Nano sebagai ketua DPD membuka acara ta’ziyah, bang Kasmon dan bang Rois memberikan tausiyah sebagai perwakilan dari teman-teman mahasiswa kemudian sepatah kata sekaligus ucapan terima kasih dari saya sendiri kemudian ditutup doa.

Setelah penutupan dan basa-basi, semua pada salaman dan bubar, om hashim nyalamin, “hamdi yang sabar ya!”, pas dia salaman kok kayak ada yang nempel-nempel ghitu di tangan saya, segera air mata saya mengering pas saya ngelihat ke tangan, so ada duitnya. “Ta’ziyah kalau ada salam tempelnya memang lebih mujarab” gumam saya dalam hati.hehe, just kidding.

Terima kasih kepada semua walaupun namanya tidak dicantumkan, yang pasti malaikat sudah mencatat nama-nama orang yang sudah menghibur saudaranya. Amin. Saya masih ingat sekali dengan kronologi peristiwa itu sampai sekarang, sampai tulisan ini ditulis (kamis, 6 November 2014).

Salat gaib di Kairo dimotori oleh riski, yahya dkk, awalnya akan dilakukan di sekretariat kmm namun setelah diusahakan ternyata gagal, banyak alasan dari ketua namun intinya satu saja “ saya bukan siapa-siapa”, sedih juga rasanya, mengapa orang-orang zagazig yang berasal aneka suku ragam lebih peduli dibanding kawan-kawan mahasiswa yang berasal dari satu propinsi.

 Seharus tidak ada pilih kasih, perlakukan saja semua sama rata. Jangan beramah-tamah dengan mereka semua hanya saat ada undian temus tapi saat kesusahan seperti ini tiada lagi ramah-tamah seolah mereka bukan anggota kita.

Akhirnya kawan diniyah berinisiatif salat gaibnya di mesjid orang mesir saja, setelah salat zuhur kita umumkan kita ingin salat gaib untuk orang tua salah seorang teman kami,  sehingga orang mesir juga akan ikut mensalatkan. Alhamd salat gaib di Kairo berjalan lancar.

Almarhum ayah sempat dirawat 3 hari di rumah sakit Ahmad Mochtar Bukittinggi, katanya ada sakit di dadanya, paru-parunya mungkin rusak gara-gara candu rokok yang dihisapnya semenjak bujang dulu. 13 Juni 2012 beliau berangkat ke alam baqa’. Setelah 61 tahun hidup di dunia ini. Allahummagfirlahu.

Terima kepada semua yang merawat dan menemani beliau ibu, abang, uni, suami uni (rang sumando) dan para tetangga, semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kita semua, semoga Allah membalasi semua kebaikannya dan kebaikan kita semua dengan balasan yang berlipat ganda. Amin.

Semoga Allah mengampuni dosa saya, karena tidak ada di sampingnya di hari-hari terakhir saat dia sangat ingin sekali bertemu dengan saya, semoga Allah mengampuni dosa saya karena tidak ikut memandikan, mengafani, mensalatkan, menguburkan, saya tak ada di samping ibu saat beliau kehilangan bapak, saya tak melakukan kebaikan apapun untuk memberikan salam perpisahan untuknya, saya tak sempat melihat wajahnya untuk yang terakhir kali, tak sempat memeluknya bahkan saya tak pernah melihat di mana kuburannya, semua gara-gara saya terpaut jauh di sini, di rantau dan belum pernah pulang semenjak kepergian almarhum. Allahummagfirli zunubi.

Sekarang cerita tentang ujian takhrij atau hadist tahlili (sampai sekarang saya belum ingat mana ujiannya). Ini adalah salah satu keuntungan belajar jauh-jauh sebelum ujian datang hingga kalau terjadi sesuatu yang sifatnya dadakan sebagaimana yang saya alami maka minimal anda bisa lulus ujian walaupun dengan nilai minimal, alhamd saja lulus di semua mata pelajaran dan naik ke tahun empat dengan predikat Jayyid.

Ya..saya memang seperti itu sebagai makhluk yang terbatas saya mencoba mengakali kekurangan dengan cara selalu hadir muhadarah kuliyah walaupun mengikuti muhadarah di sini tidak wajib, saya selalu membuat ringkasan pelajaran semampu saya dan mencicil menghafalnya walaupun ujian belum jelas kapan tanggalnya. Alhamd itu sangat membantu saya ketika musibah datang. Anda juga bisa mencoba trik ini. Fighting.

Pada tahun ini (2012) beasiswa saya keterima, alhamdulillah keluar juga setelah 3 tahun berkeliaran berburu beasiswa, pernah nyoba daftar beasiswa di WAMI (World Association Muslim International), BZ (Baet Zakat elKuwaiti), BWAKM (badan wakaf yang memberi santunan untuk mahasiswa, badan ini didirikan oleh orang Indonesia dan dikelola oleh mahasiswa), al-Azhar.

Semuanya gak ada yang tembus, padahal sudah keluar uang cukup banyak untuk ngurus-ngurus berkas, transportasi dari propinsi zagazig-kairo terus ganti-ganti tramko dari pusat kairo ke kantor-kantor pemberi beasiswa tadi, pernah nyasar juga karena orang mesir yang sok tahu, kalau nanya tempat mana saja pasti dikasih tahu walaupun mereka sebenarnya gak tahu persisnya tempat yang kita tuju (mereka malu kali ya bilang ”saya gak tahu. >ding”).

Saya pernah minta kirimin saya abang, ”bang 3 juta untuk beli Komputer, butuh nih!”, namun demi harapan bisa keterima di BZ, saya gak jadi beli computer, duitnya saya pakai untuk ngurus-ngurus beasiswa, saya yakin kali ini tembus, yakin banget. Insya Allah, ntar kalau keterima saya langsung akan beli komputer, syarat-syarat saya lengkap dan persaingan semakin ketat pasti yang lolos tahun ini bakalan dikit, jadi peluang saya sangat besar.

Pada tahun ini BZ mensyaratkan bahwa setiap pendaftar harus punya tabungan di Bank Faishal Islami, bagi orang kairo untuk daftar sebagai nasabah cukup ribet, sedangkan di Zagazig urusannya lebih gampang hanya saja kita gak punya duit, syarat jadi nasabah adalah harus memiliki Le 1000 sebagai tabungan dasar dan bayar bia adm dan punya tabungan ya minimal Le 50 juga boleh, kawan-kawan zagazig banyak yang kaget dengan peraturan BZ yang mensyaratkan harus punya tabungan dulu sebelum dapat beasiswa, susah kayaknya harus punya tabungan dalam waktu mepet seperti ini.

kayaknya bakalan banyak yang terlambat ke BZ nih… kesempatan saya semakin besar donk, saya sedih melihat keadaan teman-teman namun senang juga karena kebetulan saya lagi megang duit (duit yang seharusnya untuk beli komputer). Langsung saya gak jadi beli computer, ntar aja.

Saya salah satu diantara orang yang pertama kali berhasil punya tabungan di Bank Faishal kemudian dengan suka cita langsung ngurus-ngurus berkas ke BZ. Setelah lama menunggu ternyata nama saya gak keterima.

Saya lemes, tak berdaya, duit habis, computer gak jadi dan saya sudah bohong sama abang saya, saya yakin beliau gak tahu sampai sekarang kejadian ini, karena saya memang tak pernah ngasih tahu dia. ( maaf y bang pleasssse)

3 tahun gagal mendapat beasiswa membuat saya patah semangat, ketika diakhir tahun 3 saya diajak teman-teman nyoba lagi ke JS (Jam’iyah Syar’iyah) saya langsung nolak, nggak ah..saya ingin hidup yang pasti-pasti aja, biar sederhana yang penting jelas,( insya Allah saya bisa hidup tanpa beasiswa, gumam saya di hati untuk menghibur diri).

Kita punya rencana dan Allah juga punya rencana, dia tahu kapan waktu terbaik untuk kita. Setelah saya berhenti mencari beasiswa, dia malah datang sendiri. Di akhir tahun 3 kuliyah ( tahun 2012, bertepatan di tahun ayah saya meninggal) nama saya keluar di al-Azhar sebagai salah seorang mahasiswa yang berhak menerima beasiswa, Alhamdulillah. Nasib saya untuk ke depannya aman.

Saya langsung beres-beres dan pindah ke Kairo, tinggal di Asrama al-Azhar (nama asrama saya “Madinet elBost el-Islamea) el-Abbasea, dekat dari Kampus induk al-azhar Kairo.

Saya masuk ke asrama al-Azhar pada akhir September 2012 dan sampai sekarang masih di sini. Alhamdulilah saya sekarang sedang menuju S2 (tahun persiapan atau sanah tamhidi).

Allahummagfirli zunubi, ya Allah ampuilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku dan dosa semua kaum muslimin dan muslimat. Amin.