12 Februari 2015

kandang babi


SEEKOR babi mengendusku lagi. Langit-langit yang menyangga dunia beranjak menuju gelap. Anakku datang menyusul, menunggu di luar kandang bersama istriku.
"Babi itu punya bapak semua, ya?"
Aku melepaskan endusan babi itu dan menyuruhnya bergabung dengan teman-temannya. Hari ini aku terpaksa melepas seekor babi yang gemuk dan paling sakit di antara kawanannya. Aku tak ingin ada seekor lagi yang sakit dan bermanja denganku di hadapan putriku yang masih kecil dan membuatnya iri terhadap seekor babi. Aku ingin babi-babi itu beranak-pinak di kandangku. Dan untuk itu aku harus mampu menahan diri.
"Bukan punya bapak, kata istriku."
"Cuma pinjem ya, Pak?"
"Iya, cuma {pinjem]."
***

Setelah mendaki banyak tangga yang terbuat dari tanah dan tiba di gedung sekolah, kepalaku berkelit dan perutku bergolak. Di hadapanku anak-anak kelas empat bergembira dengan besar badan dan keberanian mereka dibanding anak-anak kelas satu, dua dan tiga. Anak-anak perempuan bermain lompat tali di tengah-tengah koridor. Seseorang atau dua berjaga di ujung dan jika dia atau mereka berteriak 34 berhenti, berhenti!34 maka mereka yang bermain merapat ke dinding dan dua orang penjaga tali ikut merapat menyembunyikan mainannya lalu bersama-sama mengucapkan selamat pagi pada bapak atau ibu guru yang lewat. Anak laki-laki banyak bicara menantang siapa saja.

Mereka tidak menyukai anak berkacamata dan tak pernah mempercayai kata-kataku. Tentang logika dan dialektika. Tentang interaksi dan tekanan emosi. Mereka percaya aku takut ketinggian tapi tak percaya dengan kata "agorafobia". Mereka bangga berpura-pura tapi tak senang mendengar "hipokrit". Aku bilang: mari berdiskusi, mereka memalingkan muka dan berkata: {enakan ngobrol]. Beberapa hari terakhir aku memilih untuk banyak diam. Seseorang yang sudah dewasa mengatakan bahwa setiap kata-kata yang kupilih membuat anak-anak sekolah dasar, apalagi inpres, sakit kepala.

Pelajaran sejarah dimulai. Ketika Pak Ari "Babi"-julukan dari seluruh murid yang diajarnya karena hidungnya yang seperti moncong dan sikapnya yang tak baik-menceritakan ulang sejarah PKI yang baru diputar di TVRI kemarin malam, aku ingin berteriak dan menuntut "arkeologi saja, Pak!" atau "mengapa bukan pelajaran anatomi, yang lebih nyata ketimbang cerita yang kaukarang itu!" Tapi aku harus diam setelah Selasa lalu, dalam pokok bahasan 'pahlawan revolusi' dan Pak Ari Babi meminta anak-anak menyebutkan nama-nama pahlawan idola, aku menjawab, "Hitler, Pak." Aku ingin menjelaskan bahwa tanggal lahirku sama dengan Hitler ketika Pak Ari Babi menyuruhku diam dengan kapur dan tatapan anehnya. Anak-anak lain tidak mengerti.

Pulang sekolah Pak Ari Babi memanggilku ke ruang guru. Bukan untuk membicarakan Hitler meski ia tampak ingin tahu.
"Bapak harap kamu tidak mengotori lingkungan sekolah dengan berjualan di dalam kelas."
"Jangan membantah! Atau"

Aku mengangguk tanda setuju dan minta izin keluar. Aku mengambil termos es yang masih tertinggal di kelas dan pergi ke kantin mengambil termos es yang lain. Selalu kosong pada waktu pulang sekolah. Aku menenteng keduanya dan berjalan menuju rumah. Rongga kepalaku menyempit dan pedih. Fertigo yang sedih.

Raden Ngabei yang sedang menangis itu ibu. Bapak berdiri di dekat jendela dan merokok dengan kaku. Ia baru dipecat dari satuannya. Sudah lama aku bercita-cita jadi tentara seperti bapak. Tapi ikut Gerakan Pramuka pun aku gagal. Ketika Pak Ari Babi, sebagai pembina, bertanya kepadaku:
"Undang-undang dasar itu bisa diubah, tidak?"      

Aku menjawab: bisa. Kukira anak-anak lain menjawab sama. Tapi tidak. Aku gugur. Aku ingin menjelaskan bahwa aku bisa saja mencorat-coret UUD dan mengganti isinya di rumah. Tetapi kalau pertanyaannya boleh atau tidak, barulah tidak boleh. Tetapi Pak Ari Babi tak pernah menanyakan alasanku. Dalam hati aku masih ingin jadi tentara. Tapi malam itu kupikir cita-citaku sungguh buruk.

Kakak-kakak perempuanku tak berani menenangkan ibu. Ibu menjadi kurus seketika dan membuatku ikut menangis tapi ibu cepat-cepat menggenggam mukaku dan berkata dengan tegas, "Biar ibu saja yang menangis. Bapak belum mati. Anak laki-laki pantang menangis".
Dan sejak malam itu aku tak pernah lagi menangis.

Bapak mulai sering pulang malam. Kerja, katanya. Kami sekeluarga beraktivitas seperti biasa sambil menunggu bapak. Sore hari kadang-kadang aku main ke rumah simbah dan mendengarkannya berkali-kali mengatakan, {kowe ki ula]. Saban ia menanyakan apa aku sudah makan, aku mengangguk. Selepas magrib aku berharap bisa selalu menemani ibu. Melewati senja yang terbentang dari rumah simbah menuju rumah. Bayang-bayang merah kuning di langit. Sepanjang jalan aku masih mendengar gema suara azan dari kiri dan kanan.

Bapak belum juga pulang. Nasi bungkus yang dijanjikan semakin jauh. Ibu beranjak ke dapur memeriksa kaleng-kaleng yang biasa berisi makanan.
"Ada keripik, Gus," kata ibu. Aku menghampirinya dan menerima remah-remah yang ia sebut keripik. Tapi akhirnya bapak pulang.

Kalau ketemu waktu senggang, bapak mengajakku berdiskusi dan membaca buku-buku bagus. Che Guevara, Karl Marx, atau Hitler. Ada juga metafisika barat. Selesai membaca bapak menerangkan ini-itu secara ringkas. Bapak memang jarang bicara. Hitler seorang bangsa Arya, pemimpin besar bangsa besar, tegas dan cinta seni, tanggal lahirnya sama denganmu. Sisanya kuhapal dari buku-buku. Aku mulai menyukainya dan mencari-cari persamaan diriku dengan dirinya. Kadang-kadang bapak juga tampak seperti Hitler dengan kumisnya.

Kalau datang senang bapak mengajakku berburu dan mengajari bagaimana menggunakan senapan. Atau duduk-duduk bersama teman-temannya di dekat kandang babi. Kandang babi yang kelak kuhidupi dan menghidupiku. Bapak pernah bilang suatu kali, pada sebuah sore yang membuat babi-babi dalam kandang kehilangan tingkahnya: babi-babi itu saja senang hidup. Kalau kami tak bertemu, berarti bapak kerja.

Tapi aku merasakan segalanya makin tidak cukup. Kakak-kakak perempuanku harus menempuh sekolah yang lebih tinggi. Ibu berdagang gorengan. Aku diam-diam mengambil es di sebuah warung dan menjualnya di sekolah. Dengan itu aku tak pernah lagi minta uang jajan dan uang sekolah. Tetapi Pak Ari yang sama sekali tak seindah babi.

Setelah menghitung persentase keuntungan dan kemungkinan-kemungkinannya, aku tetap berkeras mengambil dua termos es. Jalan tetap berkabut seperti pagi yang sudah-sudah. Tanganku yang dingin mengeluarkan asap dingin. Aku mencoba tak memikirkan soal tekanan emosi dan psikologis yang ibu alami. Aku membayangkan ibu senang dan baik-baik sepertiku pagi itu. Menembus kabut dan menghirup kesejukan dengan tubuh yang ringan. Sebelum aku berangkat, ia masih tersenyum meski tangan yang kucium bau asin entah.
"Kok, dua?"

Aku memandang mbak penjaga kantin dan mengangguk kemudian. Ia tampak setengah mengerti. Aku berjalan menuju kelasku. Mendaki lagi banyak tangga yang membuat kepalaku berkelit dan perutku bergolak. Selalu bertepatan dengan bunyi lonceng. Hanya aku yang tak menikmati waktu senggang di sekolah. Tak ada permainan yang menghiburku. Tak ada percakapan yang menyenangkan.

Aku tak menyangka semuanya akan berubah secara tiba-tiba. Setelah pelajaran mengarang dan aku membacakan karyaku tentang kandang babi yang kulihat, setiap jam istirahat mereka berkumpul di bawah pohon lantai bawah dan menyeretku untuk membacakan cerita-cerita atau puisi atau apa saja. Anak laki-laki dan anak perempuan kompak untuk urusan yang satu ini. Mereka seperti babi-babi di kandang babi dan aku tukang angonnya. Kebanyakan selalu anak perempuan. Aku mulai merasa bahagia. Perasaan berguna dan berbeda. Perasaan lebih tinggi muncul. Sekalipun sedikit-sedikit aku merasa diriku diperalat namun perasaan bahagia, berguna, berbeda dan lebih tinggi selalu mendominasi. Mereka yang senang mendengarkanku bertambah dan bertambah pula jajanan yang tersuguh. Kepercayaan diriku mulai tumbuh. Kepercayaan diri yang berbeda. Yang dilengkapi kerendahan hati. Bukan rasa angkuh yang menutupi ketidakpercayaan diri. Meski rasa angkuh dan amarah yang abstrak tetap saja menjadi pembentuk "Hitler kecil".

Liburan kali itu pemberian alam. Banjir di mana-mana membuat semua orang sepakat untuk meliburkan segala aktivitas. Tidak terlalu besar tapi cukup merendam tempat tidur. Bapak memanggulku tengah malam itu. Ibu menggiring tiga kakak perempuanku, tersendat-sendat melawan air. Semua orang menuju rumah-rumah yang lebih aman. Segalanya basah dan membasahi kami, bahkan ketika kami tiba di depan sebuah rumah tempat para tetangga berlindung. Bapak berdiri di depan pintu sejenak, meyakinkan diri sendiri bahwa seluruh keluarganya telah berkumpul.

"Maaf ya, {udah] penuh."
Bapak tak berkata apa pun juga. Ibu terus saja mengekor di belakangnya. Kami melewati jalan yang sama. Rintik-rintik kudengar ibu bertanya, "Ke mana, Pak?" Dan suara angin yang kencang membalas dengan kelebat kata 'pulang'. Bayanganku tentang Hitler menjadi kacau malam itu. Aku ingin mengajak bapak duduk-duduk di kandang babi.
Sambil memanggulku, bapak menata meja-meja yang tiba-tiba jadi begitu berat hingga menjulang dan aman dari air. Kakak-kakak perempuanku mulai kembung dan gatal-gatal. Akhirnya, di atas meja ukuran 1 x 2 meter itu, kami berbagi tidur dan mimpi. Kami sekeluarga. Tanpa agorafobia.
Tak ada yang berubah sejak malam banjir itu. Hanya buku-buku kesayangan yang hilang. Suara piring dibanting, batuk-batuk dan orang menangis tetap terdengar. Aku kembali bersekolah dan menjalani hariku dengan inferiority complex-ku yang dulu.

Ketika suatu hari hasil ujianku memungkinkan diriku memasuki sebuah fakultas terbaik di universitas terbaik di negeriku, bapak meninggal dan aku tak mungkin meninggalkan rumah. Aku masuk kuliah di universitas terbaik yang ada di kotaku.

Setiap berangkat kuliah, aku berjalan dan selalu melewati kandang babi tempat bapak sering memperlihatkan kepadaku banyak hal. Kandang babi itu sudah banyak berubah seperti masa kecilku yang tergantikan. Babi-babi di sana bukan lagi babi-babi yang kulihat sewaktu kecil. Barangkali sudah berselang banyak generasi. Babi lebih cepat beregenerasi ketimbang diriku. Mereka lebih cepat besar dan kawin, lebih cepat beranak dan lebih cepat mati.

Pada pertengahan masa kuliahku, diam-diam aku menyisihkan sebagian waktuku untuk menjadi perawat babi. Aku berusaha mengenali mereka sampai bagian yang paling detil. Aku ingin mereka tak merasa risih lagi ketika aku menyentuh kelamin dan memisahkan mereka dari perkelahian dalam keluarga.

Lama kelamaan ibu bercuriga dan aku tak pernah berani berbohong kepadanya. Ketika aku menikahi seorang perempuan yang juga senang merawat babi, ibu merasa semakin khawatir. Tapi aku meyakinkannya bahwa kami dan babi-babi itu akan baik-baik saja dan mulai membeli babi-babi di kandang itu dengan warisan milik istriku. Namun, kekhawatiran ibu mendapat peluangnya. Pada sebuah musim hujan, di waktu diriku dan istriku yang sedang hamil mudah kedinginan dan sakit, babi-babi itu memberontak dan nyaris membunuhku ketika kuberikan mereka makan secara bergantian. Mereka tampak iri dan tak sabar menunggu giliran. Rasa marah yang abstrak yang bertahun-tahun kuendapkan dalam-dalam, kulepaskan tanpa alasan yang lebih rasional ketimbang pikiran bahwa aku berhadapan dengan babi-babi yang mengamuk. Aku masih tersungkur kedinginan ketika mereka menjebol pintu kandang dan meninggalkanku sendirian.

Demikianlah, aku kehilangan pekerjaan dan semua peliharaanku menjelang istriku mengejan melahirkan anak pertamaku. Tapi aku tidak berputus asa. Tanpa sepengetahuan istri dan anakku yang baru lahir, aku menggelandang mencari babi-babi yang dapat kupinjam dan kupelihara sampai mereka beranak-pinak di kandangku. Aku memberi makan kepada mereka secara adil kecuali seekor yang lain yang kelihatan lebih sehat dan cepat bunting.
Sejauh ini, aku selalu menjaga mereka lebih dari sekedar menjaga babi-babi pinjaman. Aku mengasihi mereka seperti mereka adalah kepunyaanku sendiri. Aku sering bersedih karena mereka cuma babi yang tak bisa membuatku tergerak untuk membagi luka-lukaku sepanjang hidup. Aku benar-benar bangga terhadap hidup dan semangat hidup mereka meski jauh di lubuk hatiku, aku selalu berdoa supaya anakku, istriku dan seluruh keluargaku tak pernah menjadi babi seperti mereka.

Tetapi hari ini, setelah berjam-jam kupeluk dia dan kuceritakan kepadanya masa laluku hanya karena dirinya mengendus kakiku, seekor babi itu jatuh sakit dan aku tak mampu menenangkannya kembali. Aku menjualnya kepada seorang dokter hewan yang budiman dan berharap dirinya akan menjadi manusia di tempat yang lebih banyak manusianya ketimbang babinya. Tetapi sesungguhnya aku cemas dirinya hanya akan dimakan dan mati dan tak pernah menjadi manusia selamanya, sementara dirinyalah satu-satunya yang bisa bunting dalam waktu paling singkat dan satu-satunya babi kecil yang berani mengendus kakiku, sejauh yang kuketahui mengenai seekor babi.


7 Februari 2015

Aku Mencintai Sepasang Kaki


Bagaimana aku mewujudkan perasaan ini padamu ? Di taman sekolah, di salah satu sudut bangku yang ada, di dekat pohon rindang menghadap ke sebuah kolam buatan kecil yang jernih, ditaburi teratai mekar, pertama kali aku melihatmu di sana.

Melia, kudengar beberapa sapaan menegurmu, hingga aku mempercayakan mengenali namamu. Apa yang membuat jiwaku menyalakan getaran-getaran ini, seperti untaian wewangian yang datang perlahan menjalin nuansa tertentu, dalam terasa dan bertahan lama. Hingga detak ini tak terhitung lagi, terungkap untuk apa dan bagaimana hingga menjadi sesuatu yang pasti, rasa. Jiwaku dilanda kasmaran padamu.

Melia, bagaimana caranya aku menerbangkan sayapku yang hanya sebelah. Mengenalmu pun begitu jauh, meski elok ayumu ada di pelupuk mataku, selalu. Rajutan-rajutan itu semakin hari kian saja menjadi, tersusun rapi untuk sesuatu yang pasti, dirimu.

Melia, apa yang kau lihat padaku yang tertunduk di salah satu bangku yang sepi dan rimbun dalam kerindangan yang mampu menyembunyikan ekor mataku yang berenang mereguk kedalamanmu ? Mungkin tak pernah kau sadari. 

Sepasang kakimu selalu melangkah di depan bangku ini. menyisakan beberapa tapakan yang mampu membuat jiwaku terkubur di dasarnya, lapuk. Sepasang kaki itu, aku jatuh cinta padamu karenanya. 

Jika ia tak pernah berlalu dari hadapanku, aku mungkin tak pernah mengenali siapa pemiliknya. Sepertinya Tuhan menghadirkan langkah-langkah itu seperti awan yang berlalu untuk menyapaku tentang hujan. Memperkenalkan dirinya pada serat-serat yang memancar dari tiap kehidupan. Tapi Melia, kenapa ia bisa bertahan begitu lama jika tidak ada sebab musababnya.

Terkadang aku ingin menanyakan sesuatu, bagaimana ia bisa melahirkan getaran-getaran yang begitu sempurna. Sungguh, jika aku mampu berteriak merobohkan gunung dan mengeringkan laut, aku ingin mengatakan aku mencintaimu sedalam sentuhan jiwa yang kurasakan dan kau kuras hingga kerontang.

Setitik embun pencerahan cinta di matamu akan sanggup menerbangkan aku ke alam surgawi, membius langit hingga terbungkam, mendobrak kesunyian rimba raya dan lautan. Meski wujudmu hanya setitik, kau begitu berharga dalam tarikan nafas ini, Melia. Entah kenapa aku begitu bangga mampu meraih detak yang dihadirkan alam oleh penampakanmu. Aku merasakan puncak cahaya oleh sentuhan terdalam yang hadir melalui wajahmu.

Matahari senja ini begitu lelah. Sekuntum melati yang ada digenggamanku mulai layu dan kehilangan wewanginya. Kembang yang telah dipetik tidak mampu bertahan lama. Rasanya lebih indah jika ia tetap berselimut bersama tubuh-tubuhnya yang lain, menyatu tanpa terpisah. Aku mungkin akan tetap menikmatinya di tangkai hingga ia rontok dengan sendirinya. Tak ada kumbang yang mau menyentuhnya dalam keadaan demikian.

Melia, benarkah apa yang kuungkapkan ? Taburan matahari mereda menyisakan hawa dingin yang mulai turun. Sudah ada sekian waktu menghilang, sepasang kaki itu tak pernah lagi hadir di keindahan taman sekolah yang kian hari menjadi ramai tapi terasa sepi.

Dorongan hatiku mengusik hingga sudutnya yang tersembunyi. Kemana gerangan kau pergi, Melia ? Apakah cahaya cintaku yang tidak pernah terungkap mengusikmu ? sungguh telah kubebaskan perasaan ini untuk memenjarakanmu dengan ungkapan-ungkapan yang romantis dan puitis yang mampu menjebakmu dalam rongga kebisuan yang terdalam.

Aku menatap sudut bangku di mana Melia biasa terduduk dengan tawanya yang tersungging bersama seorang pria yang begitu sempurna berada di dekatnya. Melia, alangkah bahagia mampu melihatmu dalam rasa yang selalu didamba oleh tiap-tiap jiwa yang kesepian, sebuah sentuhan cinta kasih yang mampu membuatnya tertawa dan menangis. 

Perasaan yang mampu menyempurnakan kehidupannya dengan kecemburuan, makian, marah hingga cercaan.

Melia, sungguh aku kesepian karena kehilanganmu. Sepasang kaki indah yang biasa hadir di mataku mengukir keindahan tersendiri di satu rongga jiwaku, menghilang, tanpa pernah kukenali, tanpa pernah kuingat lagi, tanpa pernah kuungkapkan perasaan-perasaan ini.

Melia, adakah perasaan itu murni ? Kepedihan yang lama akan kepergianmu membuat taman ini terasa hambar. kicauan merpati terasa sumbang terbang menjejaki tubuhku hingga terasa pedih dan lukanya. Kehilangan cintamu, kehilangan dirimu seolah membuat hilang diriku. 

Menenggelamkanku di sudut kehidupan. Kepedihan, air mata, tawa, sirna bersamamu. Aku tetap mencintaimu hingga aku mati, cinta itu akan tetap hadir bersama leburnya jasadku, ia akan mampu bersemai lagi. Di antara padi, rumput, kembang-kembang, pohon, aku damai dalam cinta.

Kuharap masih mampu tumbuh lagi suatu hari di lain kehidupanku. Setiap hari, ditemani langit pelangi aku selalu hadir di taman ini. Suara anak-anak riuh dengan permainannya serasa berkata,
“Wahai bumi yang indah, aku telah mampu merengkuh kalian dengan cinta ayah ibuku. Lihatlah begitu bahagia mereka tertawa bersamaku.

Bukankah aku penguasa cinta yang hadir dari sebuah kesepian panjang !” Dan aku akan tersenyum. Suara bocah-bocah itu hanya akan hadir di sini. Terlalu berat aku sanggup untuk membuatnya hadir dari diriku. Menjelmakan diri menjadi jiwa lain yang akan terlalu sulit untuk kuselami.

Melia, satu-satunya yang aku sanggup mengerti hanya dirimu. Dengan segenap hatiku yang tersentuh kedalamannya oleh desahan nafasmu, aku memanggilmu, aku datang di sini, menatapi angsa berayun di air yang perak oleh matahari hingga menjadi keemas-emasan. Kulihat hanya jejak-jejakmu.

Melia, adakah semua pengetahuan yang aku punya mampu memberikan jawaban atas semua rahasia yang ingin aku pertanyakan ? Di antara ketaatan yang membuatku percaya dengan cahaya Tuhan adakah yang mampu membuatku lebih teguh tanpa sebuah cinta.

Kalaupun semuanya yang terukir ini hanya sebuah masa yang harus lepas, ia tak pernah lepas seluruhnya. Ia tetap ada di sini, Melia. Tersembunyi dengan indah dan hanya akan hadir bila embun menitik dan bayou mengalunkan tembang kerinduan.

dyiah IM