27 Oktober 2011

thoha husein "kisah ibrahim adalah mitos yang dibuat orang yahudi"

Dalam pandangan dan keimanan setiap muslim, kisah dan kejadian-kejadian sejarah yang tertera dalam Al-Qur'an dilihat dari sudut pandang realitanya adalah benar adanya dan bahwasannya ambivalensi dari apa yang dihasilkan dari sebuah kajian sejarah yang bersifat absolut dengan kisah-kisah yang dibawa oleh Al-Qur'an tidaklah akan terjadi. Sebagai contoh pemaparan terminologi “al-malik” dan “fir'aun” dalam Al-Qur'an, kita dapatkan bahwa Al-Qur'an membedakan antara keduanya. Kata “al-malik”

dalam Al-Qur'an identik dengan penguasa mesir (non pribumi) pada masa Nabi Yusuf di era Hexos, adapun penguasa Mesir (pribumi) pada masa Nabi Musa identik dengan sebutan “fir'aun” (sebuah julukan terhadap penguasa mesir semenjak era Akhnathon). Pemilahan pemakaian dua terminologi diatas sangatlah tepat dan akurat dengan hasil penelitian seorang pakar dalam bahasa Mesir kuno yang bernama Sir Alan Gardiner dalam sebuah prasasti yang ditemukannya.18 Disamping hal ini juga sebagai penguat akan unsur-unsur I'jaz yang terkandung didalam Al-Qur'an, dimana kalaulah kita mau meneliti lebih jauh kepada Taurat akan banyak kita dapatkan kontradiksi fakta antara hakikat-hakikat sejarah dengan substansi kandungan yang terdapat didalamnya. Sebagai contoh: dalam pemakaian terminologi “fir‘aun” sebagaimana yang tertera diatas dimana kita dapatkan Taurat memakai kata “fira'un” disaat ia harus memakai kata “almalik” dan demikian pula sebaliknya.
 Ilmu sejarah dengan segala perangkat dan metodologi yang dimilikinya sangatlah memungkinkan untuk tidak dapat sampai kepada sebagian fakta-fakta sejarah yang tertera didalam Al-Qur'an. Kelemahan ilmu sejarah untuk mengetahui dan membuktikan fakta-fakta sejarah yang tertera di dalam Al-Qur'an dalam pandangan kami tidaklah berarti menafikan keotentikan Al-Qur'an, bahkan sesungguhnya apa yang dikonfirmasikan oleh Al-Qur'an dalam konteks diatas merupakan sebuah nilai tambah bagi ilmu sejarah itu sendiri.     
Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî” merupakan sebuah contoh kongkrit dari problematika diatas. Beliau berpendapat bahwasannya kisah Ibrahim dan Ismail  yang tertera didalam Al-Qur'an merupakan sebuah mitos dan kisah fiktif yang dibuat-buat oleh Yahudi demi sebuah kepentingan politik tertentu dan dimanfaatkan oleh Islam dalam rangka kepentingan yang sama. Pendapat ini, sebagaimana yang beliau ungkapkan, merupakan hasil dari sebuah pembuktian yang bersifat absolut. Adapun postulat yang dijadikan sandaran oleh beliau dalam hal ini adalah bahwasannya para cendikiawan telah bermufakat bahwa bangsa Arab terbagi menjadi dua golongan :
1.Golongan Qahthâniyyah (berdomisili di Yaman);
2.Golongan ‘Adnâniyyah (berdomisili di Hijaz).
Dalam sebuah penelitian baru disebutkan bahwasannya bahasa “Qahthâniyyin” berbeda dengan bahasa “‘'Adnâniyyin”. Atas dasar itulah, dikatakan bahwasanya penisbatan bahasa “‘Adnâniyyin” terhadap bahasa Arab yang digunakan oleh “Qahthâniyin” adalah sebagaimana penisbatan bahasa Arab terhadap bahasa-bahasa samiyah (semit) lainnya.  Jikalah kisah Ibrahim dan Ismail sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Qur'an benar adanya, dan bahwasannya Ismail  (kakek moyang ‘Adnâniyyin) beserta segenap anak cucunya pernah belajar bahasa Arab dari golongan “Qahthâniyyah”, maka bagaimana mungkin terjadi kontradiksi yang sangat mencolok dan mendasar antar bahasa Arab golongan “‘Adnâniyyah” dan golongan “Qahthâniyyah”?  Atas dasar itulah beliau berpendapat, bahwa dalam konteks di atas kita dihadapkan kepada dua tawaran, antara menerima kisah tersebut apa adanya dan menolak pembuktian yang bersifat absolut, atau malah sebaliknya. Dalam hal ini masih menurut beliau tidak ada alternatif lain kecuali menolak kisah dan menerima pembuktian yang (dianggap) bersifat absolut.
Muhammad Ahmad ‘Arfah, ketika meng=counter pendapat Thoha Husein diatas menyatakan:
  1. Al-Qur'an tidak pernah menyinggung kisah belajarnya Nabi Ismail bahasa Arab dari Qahthâniyah, melainkan yang tersebut di dalamnya adalah keberadaan Ibrahim dan Ismail disamping hijrah dan pembangunan Ka‘bah yang dilakukan oleh keduanya, adapun mereka yang mengatakan bahwasannya Ismail belajar bahasa Arab dari Qahthâniyyah adalah para sejarawan bahasa. 
  2. Pembuktian yang menyatakan bahwasannya telah terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara bahasa ‘Adnâniyyah dengan Qahthâniyyah hanyalah sebatas menafikan belajarnya Ismail dan anak cucunya bahasa Arab dari Qahthâniyyah, dan bukanlah berarti penafian terhadap kisah secara keseluruhan. 
  3. Pernyataan bahwasannya dibalik kisah Ibrahim dan Ismail ada konspirasi kepentingan antara Yahudi, kaum musyrik Makkah dan Islam baik yang bersifat politik maupun agamis tidaklah dapat dibuktikan dengan teks-teks sejarah yang otentik dan akurat; hal ini baru sebatas dugaan-dugaan saja. 
  4. Lebih dari pada itu bahwa gagasan Thoha Husein dalam konteks diatas kalaulah kita mau lebih kritis dan teliti ternyata hanyalah sebatas penjiplakan dari buah pemikiran seorang missionaris berkebangsaan Inggris dalam usahanya untuk meragukan keotentikan dan keorisinilan substansi Al-Qur'an dalam sebuah buku yang berjudul “Dhail Maqâlah fi al Islam”.
Demikianlah Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî”, sebuah karya beliau yang banyak menimbulkan polemik dalam kancah pemikiran Mesir pada tahun1926-an, disamping masih banyak lagi terobosan pemikiran yang beliau gelindingkan dalam wacana pemikiran Mesir yang masih erat kaitannya dengan tema pembahasan makalah ini. Seperti pernyataannya bahwa ayat-ayat kisah dan sejarah dalam Al-Qur'an hanyalah terdapat pada ayat-ayat Madaniyyah saja dalam kapasitas  untuk menguatkan pandangannya bahwa keadaan sosial masyarakat Makkah saat itu sangatlah rendah dan bahwasannya Muhammad banyak terpengaruhi dengan kultur Ahli Kitab saat beliau berada di Madinah. Pernyataan ini kalaulah kita rujuk kepada asbab nuzûl ayat sangatlah tidak akurat, bahkan sesungguhnya ayat-ayat kisah dan sejarah dalam Al-Qur'an  malah lebih banyak kita dapatkan pada ayat-ayat Makkiyyah, seperti dalam surat Al-‘'A‘raf, Yûnus, Hûd, Al-Kahfi, Maryam, Thâhâ, Yûsuf dan Al-Syu‘arâ’, dimana kesemua surat tersebut sangatlah penuh dan kental dengan ayat-ayat kisah dan sejarah.
silakan dilihat di surga makalah.com

22 Oktober 2011

haji mabrur solusi kita

Mereka yang pergi haji tentunya ingin memperoleh haji mabrur. Untuk memperolehnya tidak ada jalan lain kecuali sebelum berangkat ke tanah suci, mereka harus membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan atau bertobat dan meninggalkan segala perilaku buruk yang selama ini dikerjakan dan menggantikannya dengan berperilaku baik. Tujuannya,  agar Allah SWT  meridhoi dan mempermudah mereka dalam  menjalankan seluruh rangkaian  ibadah haji  selama di tanah suci.  Sekembalinya di tanah air, sebagai bukti bahwa mereka telah mendapatkan haji yang mabrur, mereka harus aktif berkiprah dalam memperjuangkan, menda'wahkan Islam dan istiqamah dalam melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar, bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain. Dengan kata lain, mereka harus aktif berdakwah, selalu berusaha menghijrahkan saudara-saudaranya sesama muslim yang masih bergelimang dosa dan terpuruk ke dalam jurang kemiskinan,  berubah dari orang biasa menjadi orang yang pemurah.

Andai saja para haji atau hajjah dari bangsa ini memang benar-benar haji mabrur, maka dua ratus ribu gerak langkah mereka setibanya di tanah air akan benar-benar memberikan arti. Tidak akan butuh waktu lama untuk menyelamatkan bangsa ini dari segala keterpurukan, kerusakan moral dan akhlak 

pemikir pemikir islam

pemikir-pemikir islam seperti al-Razi, Ibn Katsir, az-Zamakhsyari, Ibn Qayyim al-Jauziyah, serta Hujjatul Islam; al-Gazali memberikan gambaran yang membanggakan tentang sebuah tata cara hidup yang bernama islam, mereka mengukuhkan bahwa islam adalah kemajuan dan keseimbangan.
Ilmu-ilmu yang mereka ajarkan abadi melewati zaman dan benua. Hanya saja tidak semua zaman dan tempat yang memahami apa yang mereka sampaikan ,semua mengalami proses turun naik, berbenturan dengan trend dan peradaban yang menguasai dunia.
Terlepas dari pembicaraan itu, sekarang muncul ulama ulama cendikiawan yang berusaha memahamkan agama islam kepada pemeluk. Islam adalah agama perdamaian dan keilmuan. Persahabatan yang inten dan dialog yang  bersinergi dari para ulama memberi angin segar untuk melanjutkan sumbangsih dari para ulama ulama terdahulu



ayah ibu

siapakah orang yang tidak akan pernah anda pernah temui tandingannya di manapun ?
orang tua, itulah jawaban yang tidak bisa di pungkiri. kita tidak mungkin hadir ke dunia tanpa perantara orang tua ,besarnya pengorbanan mereka untuk merawat kita dari kecil hingga menuju kedewasan, disini setelah dewasa  kita ditutut dari kesadaran hati kita untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada kedua orang tua kita walau sesungguhnya mereka tidak menuntut untuk itu,